Prof. Dr.(HC)
Ir. R. M. Sedyatmo atau Sedijatmo atau Sediyatmo (lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia, 24 Oktober 1909 – meninggal di Jakarta Pusat, Indonesia, 15 Juli 1984 pada umur 74 tahun) adalah salah satu tokoh insinyur sipil
Indonesia, cendekiawan, praktisi, ilmuwan dan guru besar Institut
Teknologi Bandung.
Riwayat hidup
Pendidikan dasar dilaluinya di HIS Solo (1916-1923), dilanjutkan ke MULO Solo (1923-1927), dan AMS B di Yogyakarta (1927-1930). Sedyatmo yang
sering dijuluki "Si Kancil" karena terkenal karena banyak akalnya
menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS)
(sekarang ITB) Bandung
(1930-1934). Setelah lulus ujian tahap persiapan (propaedeutisch-examen
- ujian kenaikan tingkat 1) pada bulan Juli 1931, ujian kenaikan tingkat 2 pada
bulan Juli 1932, ujian tahap kandidat (candidaats-examen - ujian
kenaikan tingkat 3) pada bulan Mei 1933, dan ujian akhir keinsinyuran (ingenieurs-examen
- ujian akhir tingkat 4) pada bulan Mei 1934, maka secara resmi Sedyatmo
menjadi seorang insinyur sipil lulusan Bandung (Bandoengsche civiel
ingenieur). Selesai dari THS pada 1934 dengan masa studi tepat empat tahun, Sedyatmo
bekerja sebagai insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintah. Sedyatmo
dikenal karena menemukan "Konstruksi Cakar Ayam" pada tahun 1962.
Temuan Sedyatmo awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya,
landasan bandara Polonia, Medan, dan
landasan bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Hasil
temuannya tersebut telah dipatenkan dan dipakai di luar negeri.
Karier
di dunia akademik dimulai sejak 1 Oktober 1950 dengan pengangkatannya sebagai
lektor luar biasa untuk vak Waterkracht (bidang pembangkit tenaga air)
pada bagian Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung
(kemudian menjadi ITB). Pada
tanggal 1 Agustus 1951 ia resmi diangkat menjadi guru besar luar biasa bidang
pembangkit tenaga air. Ia merupakan profesor pribumi kedua di jurusan teknik
sipil ITB setelah
Prof. Ir. Roosseno. Pada Lustrum ketiga (Dies Natalis ke-15)
Institut Teknologi Bandung tanggal
2 Maret 1974 Sedijatmo menerima penghormatan berupa Doctor Honoris Causa dalam
Ilmu pengetahuan Teknik dari Senat ITB, atas dasar penilaian terhadap jasa-jasanya
sebagai Insinyur, dengan promotor Prof. Ir. Soetedjo. Nama
Sedyatmo kemudian diabadikan sebagai nama jalan
bebas hambatan dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta.
Profesor Sedyatmo meninggal dunia di usia 75 tahun pada 1984 dan dimakamkan di Karanganyar. Pemerintah
Indonesia menganugerahkan Bintang
Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.Pendidikan
- HIS Solo (1916-1923)
- MULO Solo (1923-1927)
- AMS-B di Yogyakarta (1927-1930)
- TH Bandung (sekarang-ITB) (1930-Mei 1934)
Karier
- Insinyur di Dinas Pekerjaan Umum Mangkunegaran Surakarta (1934-)
- Insinyur di Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar